5.1 Pengertian Router
Router merupakan perangkat
jaringan yang berada di layer 3 dari OSI Layer. Fungsi
dari router adalah untuk memisahkan atau men-segmentasi
satu jaringan ke jaringan
lainnya. Router juga bertujuan untuk memeriksa paket data
yang masuk dan memilih jalur
yang terbaik. Router menghubungkan teknologi layer 2 yang
berbeda, seperti Ethernet, Token-Ring dan berbagai teknologi komunikasi serial
lainnya seperti ISDN, PPP dll. Router seperti halnya PC memiliki sebuah RAM, ROM, CPU, Flash
Memory, NVRAM dan Operating System yang dikenal dengan Cisco Internetwork
Operating System atau IOS.
5.2 Jenis-Jenis Router
Secara umum, router dibagi
menjadi dua buah jenis, yakni:
1. Static Router (router statis): adalah sebuah router
yang memiliki tabel routing statis
yang diset secara manual oleh para administrator jaringan.
2. Dynamic Router (router dinamis): adalah sebuah router
yang memiliki table routing
dinamis, dengan mendengarkan lalu lintas jaringan dan juga
dengan saling
berhubungan dengan router lainnya.
5.3 DHCP
DHCP (Dynamic Host
Configuration Protocol) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server
yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan secara
otomatis. Selain pengalokasian IP secara otomatis DHCP juga memberikan parameter
jaringan seperti default gateway dan DNS server.
5.3.1 DHCP Scope
DHCP Scope adalah alamat-alamat IP yang dapat disewakan kepada DHCP
client. Ini juga dapat dikonfigurasikan oleh seorang
administrator dengan
menggunakan peralatan konfigurasi DHCP server. Biasanya, sebuah alamat IP
disewakan dalam jangka waktu tertentu, yang disebut
sebagai DHCP Lease, yang
umumnya bernilai tiga hari. Informasi mengenai DHCP Scope
dan alamat IP yang
telah disewakan kemudian disimpan di dalam basis data DHCP
dalam DHCP server.
Nilai alamat-alamat IP yang dapat disewakan harus diambil
dari DHCP Pool yang tersedia yang dialokasikan dalam jaringan. Kesalahan yang
sering terjadi dalam
konfigurasi DHCP Server adalah kesalahan dalam konfigurasi
DHCP Scope.
5.3.2 DHCP Lease
DHCP Lease adalah batas waktu penyewaan alamat IP yang diberikan
kepada
DHCP client oleh DHCP Server. Umumnya, hal ini dapat
dikonfigurasikan sedemikian
rupa oleh seorang administrator dengan menggunakan
beberapa peralatan
konfigurasi (dalam Windows NT Server dapat menggunakan DHCP Manager atau
dalam Windows 2000 ke atas dapat menggunakan Microsoft
Management Console
[MMC]). DHCP Lease juga
sering disebut sebagai Reservation.
5.3.3 DHCP Options
DHCP Options adalah tambahan pengaturan alamat IP yang diberikan oleh
DHCP ke DHCP client. Ketika sebuah klien meminta alamat IP
kepada server, server
akan memberikan paling tidak sebuah alamat IP dan alamat
subnet jaringan. DHCP
server juga dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa agar
memberikan tambahan
informasi kepada klien, yang tentunya dapat dilakukan oleh
seorang administrator.
DHCP Options ini dapat diaplikasikan kepada semua klien, DHCP Scope tertentu, atau
kepada sebuah host tertentu dalam jaringan.
5.4 Cara Kerja DHCP
Karena DHCP merupakan sebuah
protokol yang menggunakan arsitektur client/server, maka dalam DHCP terdapat
dua pihak yang terlibat, yakni DHCP Server dan DHCP Client.
5.4.1 DHCP Server
Merupakan sebuah mesin yang
menjalankan layanan yang dapat
"menyewakan" alamat IP dan informasi TCP/IP
lainnya kepada semua klien yang
memintanya. Beberapa sistem operasi jaringan seperti
Windows NT Server,
Windows Server 2000, Windows Server 2003, Windows Server 2008,
atau GNU/Linux
memiliki layanan seperti ini.
DHCP server umumnya memiliki
sekumpulan alamat yang diizinkan untuk
didistribusikan kepada klien, yang disebut sebagai DHCP Pool.
Setiap klien kemudian
akan menyewa alamat IP dari DHCP Pool ini untuk waktu yang
ditentukan oleh DHCP, biasanya hingga beberapa hari. Manakala waktu penyewaan
alamat IP tersebut habis
masanya, klien akan meminta kepada server untuk memberikan
alamat IP yang baru
atau
memperpanjangnya.
Gambar 5.1 DHCP Server
5.4.2 DHCP Client
Merupakan mesin klien yang
menjalankan perangkat lunak klien DHCP yang
memungkinkan mereka untuk dapat berkomunikasi dengan DHCP
Server. Sebagian
besar sistem operasi klien jaringan (Windows NT Workstation,
Windows 2000
Professional, Windows XP, Windows Vista, atau GNU/Linux)
memiliki perangkat
lunak seperti ini.
DHCP Client akan mencoba
untuk mendapatkan "penyewaan" alamat IP dari
sebuah DHCP server dalam proses empat langkah berikut:
1.DHCPDISCOVER
DHCP client akan menyebarkan request secara broadcast
untuk mencari DHCP
Server yang aktif.
2. DHCPOFFER
Setelah DHCP Server mendengar broadcast dari DHCP Client,
DHCP server
kemudian menawarkan sebuah alamat kepada DHCP client.
3. DHCPREQUEST
Client meminta DCHP server untuk menyewakan alamat IP dari
salah satu
alamat yang tersedia dalam DHCP Pool pada DHCP Server yang
bersangkutan.
145
4. DHCPACK
DHCP server akan merespons permintaan dari klien dengan
mengirimkan paket
acknowledgment. Kemudian, DHCP Server akan menetapkan
sebuah alamat
(dan konfigurasi TCP/IP lainnya) kepada klien, dan
memperbarui basis data
database miliknya. Klien selanjutnya akan memulai proses binding dengan
tumpukan Protokol TCP/IP dan karena telah memiliki alamat
IP, klien pun
dapat
memulai komunikasi jaringan.
Gambar
5.2 DHCP Client
Gambar 5.3 Tampilan untuk mengetahui IP yang diberikan oleh
server
Empat tahap di atas hanya berlaku
bagi klien yang belum memiliki alamat.
Untuk klien yang sebelumnya pernah meminta alamat kepada DHCP server yang sama, hanya tahap 3 dan tahap 4 yang dilakukan, yakni
tahap pembaruan alamat
(address renewal), yang jelas lebih cepat
prosesnya.
DHCP bersifat stand-alone, sehingga jika dalam sebuah jaringan terdapat beberapa
DHCP server, basis data alamat IP dalam sebuah DHCP Server tidak akan direplikasi ke DHCP server lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika konfigurasi antara
dua DHCP server tersebut berbenturan, karena
protokol IP tidak mengizinkan dua host memiliki
alamat yang sama.
Selain dapat menyediakan
alamat dinamis kepada klien, DHCP Server juga dapat menetapkan sebuah alamat
statik kepada klien, sehingga alamat klien akan tetap dari waktu ke waktu.
5.5 Routing Protocol
Dalam suatu jaringan local
atau LAN, maka umumnya semua piranti jaringan
terhubung dengan satu atau beberapa Switch dengan
menggunakan kabel LAN. Lain halnya
dengan jaringan wireless, piranti wireless adapter
terhubung dengan menggunakan
frequency radio.
Sementara untuk koneksi
jaringan antar LAN melalui WAN, mereka masing-masing
terhubung lewat router dan routing protocol. Router bisa
mengirim dan melewatkan paket
hanya jika dia sudah diprogram di routing tablenya. Agar
sebuah router bisa me-route /
melewatkan packet, minimal sebuah router harus mengetahui
:
· Alamat (IP) Penerima
· Router tetangganya, yang
dengan itu ia bisa mempelajari jaringan lebih luas
· Route/lintasan yang bisa
dilewati
· Route terbaik ke setiap
jaringan
· Informasi routing
147
5.6 Pengertian Routing
Routing adalah process
transfer data melewati internetwork dari satu jaringan LAN
ke jaringan LAN lainnya. Sementara suatu Bridge
menghubungkan segmen-2 jaringan dan
berbagi traffic seperlunya menurut address hardware. Suatu
router menerima dan memforward traffic sepanjang jalur yang sesuai / tepat
menurut address software.
Bridges beroperasi pada layer
Data Link (Layer 2) pada model OSI, makanya Bridge disebut
piranti layer 2. Sementara Router bekerja pada layer
Network / Layer 3 dan lazim disebut
sebagai piranti layer 3.
Didalam IP network, routing dilakukan menurut table IP
routing. Semua IP hosts
menggunakan routing table untuk melewatkan / forward
traffic yang diterima dari router
lain
atau hosts.
Gambar 5.4 Routing
Memahami Routing – Komunikasi Internetwork
5.6.1 IP routing Protocol
IP routing protocol
memberikan komunikasi antar router. IP routing protocol
mempunyai satu tujuan utama – mengisi routing table dengan
jalur (route) terbaik
dan terkini yang bisa dia dapatkan. Walaupun kelihatan nya
simple, akan tetapi
dalam proses dan opsinya sangat rumit.
148
5.6.2 Terminology
Beberapa terminology perlu
juga dipahami dalam kaitannya dengan routing
protocol ini.
· Routing protocol mengisi
table routing dengan informasi routing, misal RIP atau
IGRP
· Routed protocol adalah
protocol dengan karakteristic layer 3 network layer yang
men-definisikan logical addressing dan routing, misal IP
dan IPX. Packet-2 yang
didefinisikan oleh porsi network layer dari protocol-2 ini
bisa di routed /
dilewatkan.
· Routing type merujuk pada
routing protocol seperti link-state atau distancevector.
5.6.3 Isian routing Table
IP routing table mengisi
routing table dengan lintasan yang valid dan bebas
loop, disamping itu routing protocol juga menjaga
terjadinya looping. Route /
lintasan yang ditambahkan ke dalam tebel routing berisi :
· Subnet number, misal
172.200.100.0
· interface out – dimana paket
akan diforward dan dikirim ke subnet tersebut,
missal s0, s1, atau eo
· IP address dari router
berikutnya atau hop berikutnya yang seharusnya
menerima paket ditujukan ke subnet tersebut
5.6.4 Tujuan Routing Protocol
Secara umum routing protocols
mempunyai beberapa tujuan seperti berikut ini:
· Secara dinamis mempelajari
dan mengisi routing table dengan sebuah lintasan
bagi semua subnet yang ada dalam jaringan
· Jika ada lebih dari satu
lintasan untuk sebuah subnet, maka routing protocol
menempatkan lintasan terbaik ke dalam routing table.149
· Memberitahukan jikalau
lintasan dalam routing table tidak lagi valid, dan
menghapus lintasan tersebut dari rauting table
· Jika suatu lintasan di dalam
routing table di hapus dan lintasan lain yang
dipelajari dari router sekitarnya tersedia, maka akan
ditambahkan ke routing
table.
· Untuk menambahkan lintasan
baru, atau mengganti lintasan dengan yang baru
secepat mungkin. Waktu antara hilangnya route / lintasan
dan usaha
mendapatkan lintasan baru penggantinya disebut convergence
time.
· Yang terakhir adalah mencegah
terjadinya routing loops.
Adalah sangat perlu untuk
memahami konsep dan metoda yang melibatkan
routing agar memudahkan kita nantinya dalam administrasi
router.
5.6.5 Autonomous Systems dan Routing Protocols
Seperti kita ketahui suatu
router menghubungkan dua network / jaringan. Sebuah
network / jaringan adalah sebuah segmen dengan address
network yang unik. Akan
tetapi dengan IP, istilah network bisa mendefinisikan dua
arti yang berbeda:
· Sebuah segmen dengan sebuah
IP address unik (biasanya merujuk pada sebuah
subnet)
· Sebuah IP Address network
yang diberikan kepada suatu organisasi (organisasi
tersebut bisa men-subnet address kedalam beberapa address
network)
5.6.6 Autonomous system
Setiap organisasi yang diberikan sebuah address network
dari ISP dianggap sebagai
suatu “autonomous system (AS)”. Setelah itu organisasi
tersebut bisa saja bebas
membentuk satu jaringan yang besar, atau membagi network
nya ke dalam subnet-2.
150
Gambar 5.4 Autonomus System
Pada diagram diatas ini
adalah sebuah Autonomous System atau AS. Dari luar (ISP)
Autonomous System ini secara keseluruhan diidentifikasikan
sebagai sebuah
network address class B. Didalam Autonomous System, router
digunakan untuk
membagi network kedalam subnet-2. Router yang ada didalam
Autonomous System
hanya mengetahui route / jalur yang ada didalam Autonomous
System itu sendiri,
akan tetapi tidak memantain informasi tentang route diluar
Autonomous System.
Router yang ada di border / perbatasan Autonomous System
disebut sebagai AS
border router. router ini memaintain informasi route baik
route di dalam maupun
diluar border router AS.
5.6.7 Nomor AS
Setiap Autonomous System
diidentifikasikan oleh sebuah nomor AS. Nomor AS ini
bisa secara local di administrasi, atau di register ke
Internet jika memang
bersinggungan dengan public network / internet.
Router-2 didalam suatu
Autonomous System digunakan untuk men-segment
(subnet) suatu network. dan juga, router-2 tersebut bisa
digunakan untuk
menghubungkan beberapa AS secara bersama. Router
menggunakan routing
protocol untuk secara dinamis menemukan jalur / route,
membangun routing table,
dan membuat keputusan tentang bagaimana harus mengirim
paket melalui
internetwork.
5.6.8 Klasifikasi routing protokol
Routing protocol bisa
diklasifikasikan berdasarkan apakah mereka melewatkan traffic didalam atau
antara Autonomous System.
· Interior Gateway Protocol
(IGP) – protocol yang melewatkan traffic didalam
Autonomous System
· Exterior Gateway Protocol
(EGP) – protocol yang melewatkan traffic keluar
atau antar Autonomous System
· Border Gateway Protocol (BGP)
– adalah versi pengembangan
dari EGP yang
melewatkan
traffic antar Autonomous System.
Gambar
5.4 IGP dan EGP
Pada diagram ini adalah
sebuah Autonomous System yang terhubung ke internet melalui router ISP.
Router-2 yang ada didalam Autonomous System menjalankan Interior Gateway
Protocol (IGP) untuk mencari route didalam Autonomous System.
152
AS border router yang
menghubungkan antara Autonomous System dan ISP
menjalankan kedua Interior Gateway Protocol (IGP) agar
bisa berkomunikasi dengan
router-2 didalam Autonomous System, dan Exterior Gateway
Protocol (EGP) agar
bisa berkomunikasi dengan router diluar Autonomous System.
Border router AS ini
mengumpulkan informasi routing diluar Autonomous System.
Berikut ini adalah IP routing
protocol yang didukung oleh router Cisco:
· RIP (Routing Information
Protocol)
· IGRP (Interior Gateway
Routing Protocol)
· IS-IS (Intermediate
System-to-Intermediate System)
· OSPF (Open Shortest Path
First OSPF)
5.7 Macam – macam routing :
Istilah routing dapat
diartikan tugas / proses untuk menentukan path/rute yang akan dilewati ole
paket yang ingin dikirim ke suatu tujuan alamat network. proses routing bekerja
pada Layer 3 OSI dan dalam menentuka lewat rute mana paket akan dilewatkan
dapat secara Static Routing maupun Dynamic Routing.
5.7.1 Static Routing
Static routing merupakan rute
yang secara manual dimasukan oleh sang
Administrator kedalam konfigurasi devices untuk
mendefinisikan lewat interface
mana sebuah paket dengan suatu tujuan akan dilewatkan.
Berikut ini merupakan poin –
poin yang didefenisikan dalam static routing :
- Network tujuan
- Subnet Mask
- Gateway atau interface yang di tunjuk untuk melewati
packet tersebut
- Metric (digunakan untuk membandingkan tingkat
kredibilitas suatu path bila
terdapat lebih dari 1 rute untuk suatu destination yang
sama)
153
Pada router cisco, static
routing dapat didefinisikan dengan perintah :
ip route <network_tujuan> <subnet_mask>
<gateway> name <deskripsi>
Static routing merupakan
bentuk yang simple dari routing, tapi diperlukan proses
manual dalam mendefine static routing tersebut ke
perangkat jaringan.
Static routing digunakan pada
network yang hanya mempunya sedikit perangkat dan
sifat rute nya tetap (sangat jarang untuk berubah) static
routing juga tidak dapat menangani perpindahan rute secara otomatis bila rute
yang didefinisikan sebelumnya mengalami kegagalan jaringan (link failure).
Perpindahan rute ini tidak
bisa otomatis dikarenakan sang administrator harus mengkonfigur lagi secara
manual untuk mengupdate konfigurasi dengan rute yang baru. keuntungan dari
static Routing adalah dari segi konsumsi memory, static routing mengkonsumsi sangat
kecil dari memory router.
Jadi kesimpulannya routing
static tidak cocok untuk network yang perangkatnya cukup lumayan banyak dan
diinginkan perubahan rute dapat dilakukan otomatis oleh perangkat jaringan bila
terjadi link failure.
5.7.2 Dynamic Routing
Merupakan Routing yang bekerja
secara dinamis dan otomatis oleh suatu
software Routing yang berjalan pada suatu perangkat (umum
nya Router). kenapa
dinamis, karena dengan dynamic routing protocol yang
berjalan, router akan dapat
menentukan secara otomatis lewat mana suatu paket dengan
sebuah tujuan akan
dikirimkan. dan apabila terjadi kegagalan jaringan pada
suatu link, router secara
otomatis akan memindahkan traffic melewati link yang tidak
mengalami gangguan
(backup link) dan akan secara otomatis menginformasikan ke
router-router lain nya
dalam satu domain bahwa telah terjadi perubahan routing
dan router yang terkait
perubahan routing tersebut akan otomatis melakukan update
routing.
Routing tersebut dapat
berjalan otomatis dikarenakan router-router yang
menjalankan dynamic routing protocol tersebut saling
mempelajari rute dan semua
perangkat yang terkonek langsung (directly connected).
Selanjutnya router akan
mempelajari route-route yang ada di Router Tetangga nya
(Neighbor Router) yang
dimana menjalanan routing protocol yang sama. singkatnya,
informasi yang di
kumpulkan dan dipelajari dari router-router tetangganya
ini akan membentuk
routing-table dimana akan menunjukan rute terbaik “best-route”
untuk mencapai
suatu network.
Lalu Dynamic routing protocol
ini akan mengirimkan informasi mengenai ‘bestroute” ke router yang menjadi
tetangganya, dan router tetangga tersebut akan
menginformasikan kembali ke tetangga lainnya sampai semua
router dalam domain
yang sama saling mengetahui rute-rute untuk mencapai dari
suatu network ke
network lainnya. Pada Dynamic Routing router-router dalam
sebuah domain yang
sama dapat beradaptasi bila terjadi perubahan topology,
perangkat problem
ataupun terjadinya link failure dengan merubah rute dan
melakukan routing update
secara otomatis. jadi router-router akan merespon secara
otomatis untuk merutekan
paket dari suatu network ke network yang lainnya dan akan
beradaptasi bila terjadi
link failure, semua itu dapa tercapai bila kondisi “tau-sama-tau”
telah tercapai pada
seluruh router yang ada dalam domain yang sama. kondisi “tau-sama-tau”
ini lebih
dikenal dengan istilah convergence.
contoh dari Dynamic routing
protocol : RIP , OSPF, EIGRP, ISIS, BGP
Pada dynamic routing terbagi
menjadi dua, yaitu Classful Routing Protocol dan
Classless Routing Protocol.
5.7.2 Classful Routing Protocol
Classful Routing Protocol
adalah penerapan subnet secara penuh atau default.
/24,/16,/8 artinya penggunaan kelas full dikonsep ini.
Classful routing protocols juga
ialah suatu protocol dimana protokol ini tidak ‘membawa’
routing mask information
ketika update routing atau routing advertisements. Ia
hanya membawa informasi ipaddress
saja, dan menggunakan informasi default mask sebagai
mask-nya. Dynamic
routing Classfull : Rip V1, IGRP. Classfull merupakan
metode pembagian IP address
berdasarkan kelas IP address (yang berjumlah sekitar 4
milyar ) dibagi kedalam lima
kelas yakni:
155
Address kelasA
1 bit pertama IP Address-nya“0”
Address kelas B
2 bit pertama IP Address-nya“10”
Address kelas C
3 bit pertama IP Address-nya“110”
Address kelas D
4 bit pertama IP Address-nya“1110”
Address kelas E
4 bit pertama IP Address-nya“1111”
Kelebihan:
- Tidak perlu menyertakan subnetmask pada update routing
Kekurangan classfull routing protocol:
- Tidak mendukung vlsm
- Ketidakmampuan untuk mendukung jaringan discontiguous.
Di bawah ini merupakan jenis-jenis dari Classful Routing
Protocol :
5.7.2.1 RIP V1
RIP (Routing Information
Protocol) merupakan routing information protokol
yang memberikan routing table berdasarkan router yang
terhubung langsung,
Kemudian router selanjutnya akan memberikan informasi
router selanjutnya yang
terhubung langsung dengan itu. Adapun informasi yang
dipertukarkan oleh RIP yaitu
: Host, network, subnet, routedefault.
Karakteristik RIP versi 1
1. Distance Vector Routing Protocol
2. Menggunakan metric yaitu hop count
3. Maximum hop count adalah 15. 16 dianggap sebagai
unreachable
4. Mengirimkan update secara periodic setiap 30 sec
5. Mengirimkan update secara broadcast ke 255.255.255.255
6. Mendukung 4 path Load Balancing secara default
maximumnya adalah 6
7. Menjalankan auto summary secara default
8. Paket update RIP yang dikirimkan bejenis UDP dengan
nomor port 520
9. Bisa mengirimkan paket update RIP v.1 dan bisa menerima
paket update RIP v.1
dan v.2
10. Berjenis classful routing protocol sehingga tidak
menyertakan subject mask
dalam paket update.Akibatnya RIP v.1 tidak mendukung VLSM
dan CIDR.
11. Mempunyai AD 120
Kelebihan :
- Menggunakan metode Triggered
Update.
- RIP memiliki timer untuk
mengetahui kapan router harus kembali
memberikan informasi routing.
- Jika terjadi perubahan pada
jaringan, sementara timer belum habis, router
tetap harus mengirimkan informasi routing karena dipicu
oleh perubahan
tersebut (triggered update).
- Mengatur routing menggunakan
RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang
cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi
kegagalan link jaringan.
Kekurangan :
- Jumlah host Terbatas.
- RIP tidak memiliki informasi
tentang subnet setiap route.
- RIP tidak mendukung Variable
Length Subnet Masking (VLSM).
- Ketika pertama kali
dijalankan hanya mengetahui cara routing ke dirinya
sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi
jaringan tempatnya
berada
- Hanya mendukung routing
classful.
- Tidak ada info subnet yang
dimasukkan dalam perbaikan routing.
- Tidak mendukung VLSM
(Variabel Length Subnet Mask).
- Perbaikan routing broadcast.
5.7.1.2 IGRP
The Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) adalah sebuah
routing protocol
berpemilik yang dikembangkan pada pertengahan tahun
1980-an oleh Cisco
Systems, Inc Cisco tujuan utama dalam menciptakan IGRP
adalah untuk
menyediakan protokol yang kuat untuk routing dalam sistem
otonomi (AS). IGRP
memiliki hop maksimum 255, tetapi defaultnya adalah 100.
IGRP menggunakan
bandwidth dan garis menunda secara default untuk
menentukan rute terbaik dalam
sebuah internetwork (Composite Metrik).
Pada IGRP ini routing dlakukan secara matematik
berdasarkan jarak. Untuk itu pada
IGRP ini sudah mempertimbangkan hal berikut sebelum
mengambil keputusan jalur
mana yang akan ditempuh. Adapun hal yang harus
diperhatikan : load,
delay,bandwitdh, realibility.
Kekurangan dan kelebihan IGRP:
1. IGRP tidak meningkatkan fitur konvergensi dan efesien
pengopersaian sinyal
2. IGRP dan EIGRP saling kompatibel memberikan
interoperability tanpa batas
dengan router IGRP
3. IGRP tidak mendukung multiprotocol
4. IGRP mempunyai hop count sampai 255
5. IGRP menggunakan metrik yang panjangnya 32 bit, yang
memberi faktor
skala256([10000000/BW]*2560
158
5.7.1.3 Classless routing protocols
Classless routing protocols
yaitu suatu metodologi pengalokasian IP Address
dalam notasi Classless Inter Domain Routing(CIDR). Istilah
lain yang digunakan untuk
menyebut bagian IP address yang menunjuk suatu jaringan
secara lebih spesifik.
Biasanya dalam menuliskan CIDR suatu kelas IP Address
digunakan tanda garis miring
(Slash)“/”, diikuti dengan angka yang menunjukan panjang
CIDR ini dalam
bit. Contoh: 192.168.1.0/24.
Classless routing protocols ‘memanjangkan’
standard skema IP Adress Class A, B,
atau C dengan menggunakan subnet mask atau mask length
sebagai indikasi bahwa
router harus menejemahkan IP network ID. Classless routing
protocols memasukan
subnet mask bersama dengan IP address ketika mencari
informasi routing.
Classless routing protocol
adalah pendukung protokol Classless Inter-Domain Routing (CIDR), sebuah skema
yang lebih baru dari IPv4 dengan menggunakan sebuah subnet mask atau mask
panjang untuk menunjukkan bagaimana router harus
mengidentifikasi ID jaringan IP Subnet mask mewakili ID
jaringan tidak terbatas pada
mereka yang didefinisikan oleh kelas-kelas alamat, tetapi
dapat berisi variabel jumlah
bit orde tinggi. Subnet mask seperti fleksibilitas
memungkinkan Anda untuk
mengelompokkan beberapa jaringan sebagai satu entri di
tabel routing, routing
secara signifikan mengurangi biaya overhead.
Metode classless addressing
(pengalamatan tanpa kelas) saat ini mulai banyak
diterapkan, yakni dengan pengalokasian IP Address dalam
notasi Classless Inter
Domain Routing(CIDR). Istilah lain yang digunakan untuk
menyebut bagian IP address
yang menunjuk suatu jaringan secara lebih spesifik,
disebut juga denganNetwork
Prefix. Biasanya dalam menuliskan network prefix suatu kelas
IP Address digunakan
tanda garis miring (Slash)“/”, diikuti dengan angka yang
menunjukan panjang
network prefix ini dalam bit.
Contoh: 192.168.0.0/24
159
Kelebihan:
- Mendukung VLSM
Di bawah ini merupakan jenis-jenis dari Classless Routing
Protocol :
5.7.1.4 IS-IS
IS-IS (Intermediate
System-to-Intermediate System) adalah Organisasi
Internasional untuk Standarisasi (ISO) spesifikasi router
dinamis. IS-IS digambarkan
dalam ISO/IEC 10589 IS-IS jaringan protokol router antar
jaringan Negara yang
berfungsi sebagai informasi jaringan Negara. Melalui
jaringan tersebut untuk
membikin sebuah topologi jaringan. IS-IS maksud utamanya
untuk penghubung OSI
paket dari CNLP (connectionless Network Protokol) tapi
telah mempunyai kapasitas
untuk menghubungkan paket IP. Ketika paket IP terintegrasi
dalam IS-IS
menyediakan kemampuan untuk menghubungkan protokol luar
dari OSI family
seperti IP. Serupa dengan OSPF, IS-IS didirikan sebuah arsitektur
hierarki dari
jaringan tersebut. IS-IS menghasilkan dua tingkatan level,
level (1) untuk dalam area
dan level (2) untuk antar area.
5.7.1.5 Rip V2
Secara umum RIPv2 tidak jauh
berbeda dengan RIPv1. Perbedaan yang ada
terlihat pada informasi yang ditukarkan antar router. Pada
RIPv2 informasi yang
dipertukarkan yaitu terdapat autenfikasi pada RIPv2 ini.
Persamaan dengan RIP v.1 :
1. Distance Vector Routing Protocol.
2. Metric berupa hop count
3. Max hop count adalah 15
4. Menggunakan port 520
5. Menjalankan auto summary secara default
160
Perbedaan dengan RIP v.1 :
1. Bersifat classless routing protocol, artinya
menyertakan field SM dalam paket
update yang dikirimkan sehingga RIP v.2 mendukung VLSM
& CIDR.
2. Mengirimkan paket update & menerima paket update
versi 2.
3. Mengirimkan update ke alamat multicast yaitu 224.0.0.9.
4. Auto Summary dapat dimatikan.
5. Mendukung fungsi keamanan berupa authentication yang
dapat mencegah
routing update dikirim atau diterima dari sumber yang
tidak dipercaya.
Kelebihan RIP versi 2 :
- mendukung routing classfull
dan routing classless
- -info subnet dimasukkan dalam
perbaikan routing
- -mendukung VLSM (Variabel
Length Subnet Mask)
- -perbaikan routing multicast
5.7.1.6 OSPF
OSPF (Open Shortest Path
First) adalah routing protocol link-state yang
dikembangkan oleh IETF sebagai pengganti RIP. Sifat OSPF
adalah "open"; Artinya
vendor apapun dapat memanfaatkan routing protocol ini.
Memanfaatkan algoritma
Shortest Path First (SPF); dimana jalur terbaik adalah
jalur yang mempunyai
cumulative cost yang paling rendah. Tidak ada batasn
penentuan cost ini.
OSPF mendasarkan matric dari
cost yang berbeda-beda antar vendor. CISCO menerapkan
penghitungan cost berdasarkan rumus: 108/BW Ada 5 tipe
paket yang digunakan
oleh OSPF:
1. Hello packet
2. Link State Request (LSR)
3. Link State Update (LSU)
4. Database Description
5. Link State Acknoeledgement (LSAck)
OSPF juga mirip dengan EIGRP
dimana terdapat 3 table, yaitu adjacency table
(berisi neighbour-neighbour). OSPF juga melakukan auto
summary, sehingga
mendukung sepenuhnya VLSM & CIDR.
OSPF kiga memanfaatkan
process ID seperti EIGRP; Namun router - router yang
menjalankan OSPF tidak perlu menggunakan process. ID yang
sama untuk saling
berkomunikasi karena OSPF menggunakan sistem area. Area
pada OSPF menentukan
batasan update packet dapat dikirim ke router mana saja.
Hal ini akan memelihara
bandwidth, karena perubahan pada salah satu router di satu
area tidak "merembet"
ke luar are tersebut. Area yang wajib ada dalam topologi
OSPF adalah area O, yaitu
backbone area. OSPF juga mendukung autentikasi dengahn2
tipe: yaitu clear text
dengan MD5.OSPF hanya mengenal: BMA(Broadcast Multi
Access) Router2-Hub-
Router2, NBMA, P2MP, VL.
Kelebihan
- Tidak menghasilkan routing
loop.
- Mendukung penggunaan beberapa
metrik sekaligus.
- Dapat menghasilkan banyak
jalur ke sebuah tujuan.
- Membagi jaringan yang besar
mejadi beberapa area.
- Waktu yang diperlukan untuk
konvergen lebih cepat.
- Kekurangan
- Membutuhkan basis data yang
besar.
- Lebih rumit.
162
5.7.1.7 EIGRP
EIGRP (Enhanced Interior
Gateway Routing Protocol). Distance vector
protocol merawat satu set metric yang kompleks untuk jarak
tempuh ke jaringan
lainnya. EIGRP menggabungkan juga konsep link state
protocol. Broadcast-broadcast
di-update setiap 90 detik ke semua EIGRP router
berdekatan. Setiap update hanya
memasukkan perubahan jaringan. EIGRP sangat cocok untuk
jaringan besar.
Pada EIGRP ini terdapat dua
tipe routing protokol yaitu dengan distance vektor dan
dengan Link state. IGRP dan EIGRP sama-sama sudah
mempertimbangkan masalah
bandwitdh yang ada dan delay yang terjadi.
Karakteristik:
- Penerus dari IGRP, CISCO
proprietary.
- Memanfaatkan triggered
update, partial, dan bounded update.
- Partial artinya routing
update yang dikirimkan tidak keseluruhan, namun
hanya route2 yang berubah.
- Bounded artinya hanya akan
dikirimkan kepada router2 yang membutuhkan
-> alamat multicast (224.0.0.10).
- Memanfaatkan algoritma DUAL
(Diffused Update Algorithm) untuk mencari
successor (best path), dan feasible successor (backup
path).
Kelebihan
- Melakukan konvergensi secara
tepat ketika menghindari loop.
- Memerlukan lebih sedikit
memori dan proses.
- Memerlukan fitur
loopavoidance.
- EIGRP mendukung multiprotocol.
- EIGRP meningkatkan fitur
konvergensi dan efesien pengopersaian sinyal.
163- IGRP
dan EIGRP saling kompatibel memberikan interoperability tanpa batas
dengan ruter IGRP.
Kekurangan
- Hanya untuk Router Cisco.
- EIGRP mempunyai maximum hop
count terbatas sampai 224.
5.7.1.8 BGP
BGP (Border Gateway Protocol)
adalah sebuah sistem antar autonomous
routing protocol. Sistem autonomous adalah sebuah jaringan
atau kelompok
jaringan di bawah administrasi umum dan dengan kebijakan
routing umum. BGP
digunakan untuk pertukaran informasi routing untuk
Internet dan merupakan
protokol yang digunakan antar penyedia layanan Internet
(ISP). Pelanggan jaringan,
seperti perguruan tinggi dan perusahaan, biasanya
menggunakan sebuah Interior
Gateway Protocol (IGP) seperti RIP atau OSPF untuk
pertukaran informasi routing
dalam jaringan mereka. Pelanggan menyambung ke ISP, dan
ISP menggunakan BGP
untuk bertukar pelanggan dan rute ISP . Ketika BGP
digunakan antar Autonom
System (AS), protokol ini disebut sebagai External BGP
(EBGP). Jika penyedia layanan
menggunakan BGP untuk bertukar rute dalam suatu AS, maka
protokol disebut
sebagai Interior BGP (IBGP)
Kelebihan
- Sangat sederhana dalam
instalasi.
- Kekurangan :
- Sangat terbatas dalam
mempergunakan topologi.
164
5.7.1.9 Default Route
Default route adalah sebuah
rute yang dianggap cocok dengan semua IP address
tujuan. Dengan default route ketika IP address
destination(tujuan) dari sebuah paket
tidak ditemukan dalam tabel routing, maka router akan
menggunakan default route
untuk mem-forward paket tersebut. Default route paling
cocok berfungsi ketika
hanya ada satu rute ke suatu network. Syarat membuat
default routing adalah:
hanya
memiliki satu jalur keluar / 1 gateway
Posted by , Published at 00.25 and have
2
komentar
.
BalasHapusBang, saya ada tugas di 5.6.8 tapi setiap saya kerjain skor mentok di 16%, tolong bang solusi nya
BalasHapus