BAB 5 ROUTER

BAB 5 ROUTER

5.1 Pengertian Router

Router merupakan perangkat jaringan yang berada di layer 3 dari OSI Layer. Fungsi
dari router adalah untuk memisahkan atau men-segmentasi satu jaringan ke jaringan
lainnya. Router juga bertujuan untuk memeriksa paket data yang masuk dan memilih jalur
yang terbaik. Router menghubungkan teknologi layer 2 yang berbeda, seperti Ethernet, Token-Ring dan berbagai teknologi komunikasi serial lainnya seperti ISDN, PPP dll. Router seperti halnya PC memiliki sebuah RAM, ROM, CPU, Flash Memory, NVRAM dan Operating System yang dikenal dengan Cisco Internetwork Operating System atau IOS.

5.2 Jenis-Jenis Router

Secara umum, router dibagi menjadi dua buah jenis, yakni:

1. Static Router (router statis): adalah sebuah router yang memiliki tabel routing statis
yang diset secara manual oleh para administrator jaringan.

2. Dynamic Router (router dinamis): adalah sebuah router yang memiliki table routing
dinamis, dengan mendengarkan lalu lintas jaringan dan juga dengan saling
berhubungan dengan router lainnya.

5.3 DHCP

DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan secara otomatis. Selain pengalokasian IP secara otomatis DHCP juga memberikan parameter jaringan seperti default gateway dan DNS server.

5.3.1 DHCP Scope

DHCP Scope adalah alamat-alamat IP yang dapat disewakan kepada DHCP
client. Ini juga dapat dikonfigurasikan oleh seorang administrator dengan
menggunakan peralatan konfigurasi DHCP server. Biasanya, sebuah alamat IP
disewakan dalam jangka waktu tertentu, yang disebut sebagai DHCP Lease, yang
umumnya bernilai tiga hari. Informasi mengenai DHCP Scope dan alamat IP yang
telah disewakan kemudian disimpan di dalam basis data DHCP dalam DHCP server.
Nilai alamat-alamat IP yang dapat disewakan harus diambil dari DHCP Pool yang tersedia yang dialokasikan dalam jaringan. Kesalahan yang sering terjadi dalam
konfigurasi DHCP Server adalah kesalahan dalam konfigurasi DHCP Scope.

5.3.2 DHCP Lease

DHCP Lease adalah batas waktu penyewaan alamat IP yang diberikan kepada
DHCP client oleh DHCP Server. Umumnya, hal ini dapat dikonfigurasikan sedemikian
rupa oleh seorang administrator dengan menggunakan beberapa peralatan
konfigurasi (dalam Windows NT Server dapat menggunakan DHCP Manager atau
dalam Windows 2000 ke atas dapat menggunakan Microsoft Management Console
[MMC]). DHCP Lease juga sering disebut sebagai Reservation.

5.3.3 DHCP Options

DHCP Options adalah tambahan pengaturan alamat IP yang diberikan oleh
DHCP ke DHCP client. Ketika sebuah klien meminta alamat IP kepada server, server
akan memberikan paling tidak sebuah alamat IP dan alamat subnet jaringan. DHCP
server juga dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa agar memberikan tambahan
informasi kepada klien, yang tentunya dapat dilakukan oleh seorang administrator.
DHCP Options ini dapat diaplikasikan kepada semua klien, DHCP Scope tertentu, atau
kepada sebuah host tertentu dalam jaringan.

5.4 Cara Kerja DHCP

Karena DHCP merupakan sebuah protokol yang menggunakan arsitektur client/server, maka dalam DHCP terdapat dua pihak yang terlibat, yakni DHCP Server dan DHCP Client.

5.4.1 DHCP Server

Merupakan sebuah mesin yang menjalankan layanan yang dapat
"menyewakan" alamat IP dan informasi TCP/IP lainnya kepada semua klien yang
memintanya. Beberapa sistem operasi jaringan seperti Windows NT Server,
Windows Server 2000, Windows Server 2003, Windows Server 2008, atau GNU/Linux
memiliki layanan seperti ini.

DHCP server umumnya memiliki sekumpulan alamat yang diizinkan untuk
didistribusikan kepada klien, yang disebut sebagai DHCP Pool. Setiap klien kemudian
akan menyewa alamat IP dari DHCP Pool ini untuk waktu yang ditentukan oleh DHCP, biasanya hingga beberapa hari. Manakala waktu penyewaan alamat IP tersebut habis
masanya, klien akan meminta kepada server untuk memberikan alamat IP yang baru
atau memperpanjangnya.
            

Gambar 5.1 DHCP Server

5.4.2 DHCP Client

Merupakan mesin klien yang menjalankan perangkat lunak klien DHCP yang
memungkinkan mereka untuk dapat berkomunikasi dengan DHCP Server. Sebagian
besar sistem operasi klien jaringan (Windows NT Workstation, Windows 2000
Professional, Windows XP, Windows Vista, atau GNU/Linux) memiliki perangkat
lunak seperti ini.

DHCP Client akan mencoba untuk mendapatkan "penyewaan" alamat IP dari
sebuah DHCP server dalam proses empat langkah berikut:

1.DHCPDISCOVER

DHCP client akan menyebarkan request secara broadcast untuk mencari DHCP
Server yang aktif.

2. DHCPOFFER

Setelah DHCP Server mendengar broadcast dari DHCP Client, DHCP server
kemudian menawarkan sebuah alamat kepada DHCP client.

3. DHCPREQUEST

Client meminta DCHP server untuk menyewakan alamat IP dari salah satu
alamat yang tersedia dalam DHCP Pool pada DHCP Server yang bersangkutan.
145
4. DHCPACK
DHCP server akan merespons permintaan dari klien dengan mengirimkan paket
acknowledgment. Kemudian, DHCP Server akan menetapkan sebuah alamat
(dan konfigurasi TCP/IP lainnya) kepada klien, dan memperbarui basis data
database miliknya. Klien selanjutnya akan memulai proses binding dengan
tumpukan Protokol TCP/IP dan karena telah memiliki alamat IP, klien pun
dapat memulai komunikasi jaringan.


Gambar 5.2 DHCP Client


Gambar 5.3 Tampilan untuk mengetahui IP yang diberikan oleh server

Empat tahap di atas hanya berlaku bagi klien yang belum memiliki alamat.
Untuk klien yang sebelumnya pernah meminta alamat kepada DHCP server yang sama, hanya tahap 3 dan tahap 4 yang dilakukan, yakni tahap pembaruan alamat
(address renewal), yang jelas lebih cepat prosesnya.

DHCP bersifat stand-alone, sehingga jika dalam sebuah jaringan terdapat beberapa DHCP server, basis data alamat IP dalam sebuah DHCP Server tidak akan direplikasi ke DHCP server lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika konfigurasi antara dua DHCP server tersebut berbenturan, karena protokol IP tidak mengizinkan dua host memiliki alamat yang sama.

Selain dapat menyediakan alamat dinamis kepada klien, DHCP Server juga dapat menetapkan sebuah alamat statik kepada klien, sehingga alamat klien akan tetap dari waktu ke waktu.

5.5 Routing Protocol

Dalam suatu jaringan local atau LAN, maka umumnya semua piranti jaringan
terhubung dengan satu atau beberapa Switch dengan menggunakan kabel LAN. Lain halnya
dengan jaringan wireless, piranti wireless adapter terhubung dengan menggunakan
frequency radio.

Sementara untuk koneksi jaringan antar LAN melalui WAN, mereka masing-masing
terhubung lewat router dan routing protocol. Router bisa mengirim dan melewatkan paket
hanya jika dia sudah diprogram di routing tablenya. Agar sebuah router bisa me-route /
melewatkan packet, minimal sebuah router harus mengetahui :

· Alamat (IP) Penerima
· Router tetangganya, yang dengan itu ia bisa mempelajari jaringan lebih luas
· Route/lintasan yang bisa dilewati
· Route terbaik ke setiap jaringan
· Informasi routing
147
5.6 Pengertian Routing

Routing adalah process transfer data melewati internetwork dari satu jaringan LAN
ke jaringan LAN lainnya. Sementara suatu Bridge menghubungkan segmen-2 jaringan dan
berbagi traffic seperlunya menurut address hardware. Suatu router menerima dan memforward traffic sepanjang jalur yang sesuai / tepat menurut address software.

Bridges beroperasi pada layer Data Link (Layer 2) pada model OSI, makanya Bridge disebut
piranti layer 2. Sementara Router bekerja pada layer Network / Layer 3 dan lazim disebut
sebagai piranti layer 3.

Didalam IP network, routing dilakukan menurut table IP routing. Semua IP hosts
menggunakan routing table untuk melewatkan / forward traffic yang diterima dari router
lain atau hosts.



Gambar 5.4 Routing

Memahami Routing – Komunikasi Internetwork

5.6.1 IP routing Protocol

IP routing protocol memberikan komunikasi antar router. IP routing protocol
mempunyai satu tujuan utama – mengisi routing table dengan jalur (route) terbaik
dan terkini yang bisa dia dapatkan. Walaupun kelihatan nya simple, akan tetapi
dalam proses dan opsinya sangat rumit.
148
5.6.2 Terminology

Beberapa terminology perlu juga dipahami dalam kaitannya dengan routing
protocol ini.

· Routing protocol mengisi table routing dengan informasi routing, misal RIP atau
IGRP
· Routed protocol adalah protocol dengan karakteristic layer 3 network layer yang
men-definisikan logical addressing dan routing, misal IP dan IPX. Packet-2 yang
didefinisikan oleh porsi network layer dari protocol-2 ini bisa di routed /
dilewatkan.
· Routing type merujuk pada routing protocol seperti link-state atau distancevector.

5.6.3 Isian routing Table

IP routing table mengisi routing table dengan lintasan yang valid dan bebas
loop, disamping itu routing protocol juga menjaga terjadinya looping. Route /
lintasan yang ditambahkan ke dalam tebel routing berisi :

· Subnet number, misal 172.200.100.0
· interface out – dimana paket akan diforward dan dikirim ke subnet tersebut,
missal s0, s1, atau eo
· IP address dari router berikutnya atau hop berikutnya yang seharusnya
menerima paket ditujukan ke subnet tersebut

5.6.4 Tujuan Routing Protocol

Secara umum routing protocols mempunyai beberapa tujuan seperti berikut ini:

· Secara dinamis mempelajari dan mengisi routing table dengan sebuah lintasan
bagi semua subnet yang ada dalam jaringan
· Jika ada lebih dari satu lintasan untuk sebuah subnet, maka routing protocol
menempatkan lintasan terbaik ke dalam routing table.149
· Memberitahukan jikalau lintasan dalam routing table tidak lagi valid, dan
menghapus lintasan tersebut dari rauting table
· Jika suatu lintasan di dalam routing table di hapus dan lintasan lain yang
dipelajari dari router sekitarnya tersedia, maka akan ditambahkan ke routing
table.
· Untuk menambahkan lintasan baru, atau mengganti lintasan dengan yang baru
secepat mungkin. Waktu antara hilangnya route / lintasan dan usaha
mendapatkan lintasan baru penggantinya disebut convergence time.
· Yang terakhir adalah mencegah terjadinya routing loops.

Adalah sangat perlu untuk memahami konsep dan metoda yang melibatkan
routing agar memudahkan kita nantinya dalam administrasi router.

5.6.5 Autonomous Systems dan Routing Protocols

Seperti kita ketahui suatu router menghubungkan dua network / jaringan. Sebuah
network / jaringan adalah sebuah segmen dengan address network yang unik. Akan
tetapi dengan IP, istilah network bisa mendefinisikan dua arti yang berbeda:

· Sebuah segmen dengan sebuah IP address unik (biasanya merujuk pada sebuah
subnet)
· Sebuah IP Address network yang diberikan kepada suatu organisasi (organisasi
tersebut bisa men-subnet address kedalam beberapa address network)
5.6.6 Autonomous system
Setiap organisasi yang diberikan sebuah address network dari ISP dianggap sebagai
suatu “autonomous system (AS)”. Setelah itu organisasi tersebut bisa saja bebas
membentuk satu jaringan yang besar, atau membagi network nya ke dalam subnet-2.


150
Gambar 5.4 Autonomus System

Pada diagram diatas ini adalah sebuah Autonomous System atau AS. Dari luar (ISP)
Autonomous System ini secara keseluruhan diidentifikasikan sebagai sebuah
network address class B. Didalam Autonomous System, router digunakan untuk
membagi network kedalam subnet-2. Router yang ada didalam Autonomous System
hanya mengetahui route / jalur yang ada didalam Autonomous System itu sendiri,
akan tetapi tidak memantain informasi tentang route diluar Autonomous System.
Router yang ada di border / perbatasan Autonomous System disebut sebagai AS
border router. router ini memaintain informasi route baik route di dalam maupun
diluar border router AS.

5.6.7 Nomor AS

Setiap Autonomous System diidentifikasikan oleh sebuah nomor AS. Nomor AS ini
bisa secara local di administrasi, atau di register ke Internet jika memang
bersinggungan dengan public network / internet.

Router-2 didalam suatu Autonomous System digunakan untuk men-segment
(subnet) suatu network. dan juga, router-2 tersebut bisa digunakan untuk
menghubungkan beberapa AS secara bersama. Router menggunakan routing
protocol untuk secara dinamis menemukan jalur / route, membangun routing table,
dan membuat keputusan tentang bagaimana harus mengirim paket melalui
internetwork.

5.6.8 Klasifikasi routing protokol

Routing protocol bisa diklasifikasikan berdasarkan apakah mereka melewatkan traffic didalam atau antara Autonomous System.

· Interior Gateway Protocol (IGP) – protocol yang melewatkan traffic didalam
Autonomous System
· Exterior Gateway Protocol (EGP) – protocol yang melewatkan traffic keluar
atau antar Autonomous System
· Border Gateway Protocol (BGP) – adalah versi pengembangan dari EGP yang
melewatkan traffic antar Autonomous System.


Gambar 5.4 IGP dan EGP

Pada diagram ini adalah sebuah Autonomous System yang terhubung ke internet melalui router ISP. Router-2 yang ada didalam Autonomous System menjalankan Interior Gateway Protocol (IGP) untuk mencari route didalam Autonomous System.
152
AS border router yang menghubungkan antara Autonomous System dan ISP
menjalankan kedua Interior Gateway Protocol (IGP) agar bisa berkomunikasi dengan
router-2 didalam Autonomous System, dan Exterior Gateway Protocol (EGP) agar
bisa berkomunikasi dengan router diluar Autonomous System. Border router AS ini
mengumpulkan informasi routing diluar Autonomous System.

Berikut ini adalah IP routing protocol yang didukung oleh router Cisco:

· RIP (Routing Information Protocol)
· IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)
· IS-IS (Intermediate System-to-Intermediate System)
· OSPF (Open Shortest Path First OSPF)

5.7 Macam – macam routing :

Istilah routing dapat diartikan tugas / proses untuk menentukan path/rute yang akan dilewati ole paket yang ingin dikirim ke suatu tujuan alamat network. proses routing bekerja pada Layer 3 OSI dan dalam menentuka lewat rute mana paket akan dilewatkan dapat secara Static Routing maupun Dynamic Routing.

5.7.1 Static Routing

Static routing merupakan rute yang secara manual dimasukan oleh sang
Administrator kedalam konfigurasi devices untuk mendefinisikan lewat interface
mana sebuah paket dengan suatu tujuan akan dilewatkan.

Berikut ini merupakan poin – poin yang didefenisikan dalam static routing :

- Network tujuan
- Subnet Mask
- Gateway atau interface yang di tunjuk untuk melewati packet tersebut
- Metric (digunakan untuk membandingkan tingkat kredibilitas suatu path bila
terdapat lebih dari 1 rute untuk suatu destination yang sama)
153
Pada router cisco, static routing dapat didefinisikan dengan perintah :
ip route <network_tujuan> <subnet_mask> <gateway> name <deskripsi>

Static routing merupakan bentuk yang simple dari routing, tapi diperlukan proses
manual dalam mendefine static routing tersebut ke perangkat jaringan.

Static routing digunakan pada network yang hanya mempunya sedikit perangkat dan
sifat rute nya tetap (sangat jarang untuk berubah) static routing juga tidak dapat menangani perpindahan rute secara otomatis bila rute yang didefinisikan sebelumnya mengalami kegagalan jaringan (link failure).

Perpindahan rute ini tidak bisa otomatis dikarenakan sang administrator harus mengkonfigur lagi secara manual untuk mengupdate konfigurasi dengan rute yang baru. keuntungan dari static Routing adalah dari segi konsumsi memory, static routing mengkonsumsi sangat kecil dari memory router.
Jadi kesimpulannya routing static tidak cocok untuk network yang perangkatnya cukup lumayan banyak dan diinginkan perubahan rute dapat dilakukan otomatis oleh perangkat jaringan bila terjadi link failure.

5.7.2 Dynamic Routing

Merupakan Routing yang bekerja secara dinamis dan otomatis oleh suatu
software Routing yang berjalan pada suatu perangkat (umum nya Router). kenapa
dinamis, karena dengan dynamic routing protocol yang berjalan, router akan dapat
menentukan secara otomatis lewat mana suatu paket dengan sebuah tujuan akan
dikirimkan. dan apabila terjadi kegagalan jaringan pada suatu link, router secara
otomatis akan memindahkan traffic melewati link yang tidak mengalami gangguan
(backup link) dan akan secara otomatis menginformasikan ke router-router lain nya
dalam satu domain bahwa telah terjadi perubahan routing dan router yang terkait
perubahan routing tersebut akan otomatis melakukan update routing.

Routing tersebut dapat berjalan otomatis dikarenakan router-router yang
menjalankan dynamic routing protocol tersebut saling mempelajari rute dan semua
perangkat yang terkonek langsung (directly connected). Selanjutnya router akan
mempelajari route-route yang ada di Router Tetangga nya (Neighbor Router) yang
dimana menjalanan routing protocol yang sama. singkatnya, informasi yang di
kumpulkan dan dipelajari dari router-router tetangganya ini akan membentuk
routing-table dimana akan menunjukan rute terbaik “best-route” untuk mencapai
suatu network.

Lalu Dynamic routing protocol ini akan mengirimkan informasi mengenai ‘bestroute” ke router yang menjadi tetangganya, dan router tetangga tersebut akan
menginformasikan kembali ke tetangga lainnya sampai semua router dalam domain
yang sama saling mengetahui rute-rute untuk mencapai dari suatu network ke
network lainnya. Pada Dynamic Routing router-router dalam sebuah domain yang
sama dapat beradaptasi bila terjadi perubahan topology, perangkat problem
ataupun terjadinya link failure dengan merubah rute dan melakukan routing update
secara otomatis. jadi router-router akan merespon secara otomatis untuk merutekan
paket dari suatu network ke network yang lainnya dan akan beradaptasi bila terjadi
link failure, semua itu dapa tercapai bila kondisi “tau-sama-tau” telah tercapai pada
seluruh router yang ada dalam domain yang sama. kondisi “tau-sama-tau” ini lebih
dikenal dengan istilah convergence.

contoh dari Dynamic routing protocol : RIP , OSPF, EIGRP, ISIS, BGP

Pada dynamic routing terbagi menjadi dua, yaitu Classful Routing Protocol dan
Classless Routing Protocol.

5.7.2 Classful Routing Protocol

Classful Routing Protocol adalah penerapan subnet secara penuh atau default.
/24,/16,/8 artinya penggunaan kelas full dikonsep ini. Classful routing protocols juga
ialah suatu protocol dimana protokol ini tidak ‘membawa’ routing mask information
ketika update routing atau routing advertisements. Ia hanya membawa informasi ipaddress
saja, dan menggunakan informasi default mask sebagai mask-nya. Dynamic
routing Classfull : Rip V1, IGRP. Classfull merupakan metode pembagian IP address
berdasarkan kelas IP address (yang berjumlah sekitar 4 milyar ) dibagi kedalam lima
kelas yakni:
155
Address kelasA
1 bit pertama IP Address-nya“0”
Address kelas B
2 bit pertama IP Address-nya“10”
Address kelas C
3 bit pertama IP Address-nya“110”
Address kelas D
4 bit pertama IP Address-nya“1110”
Address kelas E
4 bit pertama IP Address-nya“1111”

Kelebihan:

- Tidak perlu menyertakan subnetmask pada update routing

Kekurangan classfull routing protocol:

- Tidak mendukung vlsm
- Ketidakmampuan untuk mendukung jaringan discontiguous.
Di bawah ini merupakan jenis-jenis dari Classful Routing Protocol :

5.7.2.1 RIP V1

RIP (Routing Information Protocol) merupakan routing information protokol
yang memberikan routing table berdasarkan router yang terhubung langsung,
Kemudian router selanjutnya akan memberikan informasi router selanjutnya yang
terhubung langsung dengan itu. Adapun informasi yang dipertukarkan oleh RIP yaitu
: Host, network, subnet, routedefault.

Karakteristik RIP versi 1

1. Distance Vector Routing Protocol
2. Menggunakan metric yaitu hop count
3. Maximum hop count adalah 15. 16 dianggap sebagai unreachable
4. Mengirimkan update secara periodic setiap 30 sec
5. Mengirimkan update secara broadcast ke 255.255.255.255
6. Mendukung 4 path Load Balancing secara default maximumnya adalah 6
7. Menjalankan auto summary secara default
8. Paket update RIP yang dikirimkan bejenis UDP dengan nomor port 520
9. Bisa mengirimkan paket update RIP v.1 dan bisa menerima paket update RIP v.1
dan v.2
10. Berjenis classful routing protocol sehingga tidak menyertakan subject mask
dalam paket update.Akibatnya RIP v.1 tidak mendukung VLSM dan CIDR.
11. Mempunyai AD 120

Kelebihan :

- Menggunakan metode Triggered Update.
- RIP memiliki timer untuk mengetahui kapan router harus kembali
memberikan informasi routing.
- Jika terjadi perubahan pada jaringan, sementara timer belum habis, router
tetap harus mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan
tersebut (triggered update).
- Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang
cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link jaringan.

Kekurangan :

- Jumlah host Terbatas.
- RIP tidak memiliki informasi tentang subnet setiap route.
- RIP tidak mendukung Variable Length Subnet Masking (VLSM).
- Ketika pertama kali dijalankan hanya mengetahui cara routing ke dirinya
sendiri (informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya
berada
- Hanya mendukung routing classful.
- Tidak ada info subnet yang dimasukkan dalam perbaikan routing.
- Tidak mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask).
- Perbaikan routing broadcast.

5.7.1.2 IGRP

The Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) adalah sebuah routing protocol
berpemilik yang dikembangkan pada pertengahan tahun 1980-an oleh Cisco
Systems, Inc Cisco tujuan utama dalam menciptakan IGRP adalah untuk
menyediakan protokol yang kuat untuk routing dalam sistem otonomi (AS). IGRP
memiliki hop maksimum 255, tetapi defaultnya adalah 100. IGRP menggunakan
bandwidth dan garis menunda secara default untuk menentukan rute terbaik dalam
sebuah internetwork (Composite Metrik).
Pada IGRP ini routing dlakukan secara matematik berdasarkan jarak. Untuk itu pada
IGRP ini sudah mempertimbangkan hal berikut sebelum mengambil keputusan jalur
mana yang akan ditempuh. Adapun hal yang harus diperhatikan : load,
delay,bandwitdh, realibility.
Kekurangan dan kelebihan IGRP:
1. IGRP tidak meningkatkan fitur konvergensi dan efesien pengopersaian sinyal
2. IGRP dan EIGRP saling kompatibel memberikan interoperability tanpa batas
dengan router IGRP
3. IGRP tidak mendukung multiprotocol
4. IGRP mempunyai hop count sampai 255
5. IGRP menggunakan metrik yang panjangnya 32 bit, yang memberi faktor
skala256([10000000/BW]*2560
158
5.7.1.3 Classless routing protocols

Classless routing protocols yaitu suatu metodologi pengalokasian IP Address
dalam notasi Classless Inter Domain Routing(CIDR). Istilah lain yang digunakan untuk
menyebut bagian IP address yang menunjuk suatu jaringan secara lebih spesifik.
Biasanya dalam menuliskan CIDR suatu kelas IP Address digunakan tanda garis miring
(Slash)“/”, diikuti dengan angka yang menunjukan panjang CIDR ini dalam
bit. Contoh: 192.168.1.0/24.

Classless routing protocols ‘memanjangkan’ standard skema IP Adress Class A, B,
atau C dengan menggunakan subnet mask atau mask length sebagai indikasi bahwa
router harus menejemahkan IP network ID. Classless routing protocols memasukan
subnet mask bersama dengan IP address ketika mencari informasi routing.

Classless routing protocol adalah pendukung protokol Classless Inter-Domain Routing (CIDR), sebuah skema yang lebih baru dari IPv4 dengan menggunakan sebuah subnet mask atau mask panjang untuk menunjukkan bagaimana router harus
mengidentifikasi ID jaringan IP Subnet mask mewakili ID jaringan tidak terbatas pada
mereka yang didefinisikan oleh kelas-kelas alamat, tetapi dapat berisi variabel jumlah
bit orde tinggi. Subnet mask seperti fleksibilitas memungkinkan Anda untuk
mengelompokkan beberapa jaringan sebagai satu entri di tabel routing, routing
secara signifikan mengurangi biaya overhead.

Metode classless addressing (pengalamatan tanpa kelas) saat ini mulai banyak
diterapkan, yakni dengan pengalokasian IP Address dalam notasi Classless Inter
Domain Routing(CIDR). Istilah lain yang digunakan untuk menyebut bagian IP address
yang menunjuk suatu jaringan secara lebih spesifik, disebut juga denganNetwork
Prefix. Biasanya dalam menuliskan network prefix suatu kelas IP Address digunakan
tanda garis miring (Slash)“/”, diikuti dengan angka yang menunjukan panjang
network prefix ini dalam bit.

Contoh: 192.168.0.0/24
159
Kelebihan:

- Mendukung VLSM

Di bawah ini merupakan jenis-jenis dari Classless Routing Protocol :

5.7.1.4 IS-IS

IS-IS (Intermediate System-to-Intermediate System) adalah Organisasi
Internasional untuk Standarisasi (ISO) spesifikasi router dinamis. IS-IS digambarkan
dalam ISO/IEC 10589 IS-IS jaringan protokol router antar jaringan Negara yang
berfungsi sebagai informasi jaringan Negara. Melalui jaringan tersebut untuk
membikin sebuah topologi jaringan. IS-IS maksud utamanya untuk penghubung OSI
paket dari CNLP (connectionless Network Protokol) tapi telah mempunyai kapasitas
untuk menghubungkan paket IP. Ketika paket IP terintegrasi dalam IS-IS
menyediakan kemampuan untuk menghubungkan protokol luar dari OSI family
seperti IP. Serupa dengan OSPF, IS-IS didirikan sebuah arsitektur hierarki dari
jaringan tersebut. IS-IS menghasilkan dua tingkatan level, level (1) untuk dalam area
dan level (2) untuk antar area.

5.7.1.5 Rip V2

Secara umum RIPv2 tidak jauh berbeda dengan RIPv1. Perbedaan yang ada
terlihat pada informasi yang ditukarkan antar router. Pada RIPv2 informasi yang
dipertukarkan yaitu terdapat autenfikasi pada RIPv2 ini.

Persamaan dengan RIP v.1 :

1. Distance Vector Routing Protocol.
2. Metric berupa hop count
3. Max hop count adalah 15
4. Menggunakan port 520
5. Menjalankan auto summary secara default
160
Perbedaan dengan RIP v.1 :

1. Bersifat classless routing protocol, artinya menyertakan field SM dalam paket
update yang dikirimkan sehingga RIP v.2 mendukung VLSM & CIDR.
2. Mengirimkan paket update & menerima paket update versi 2.
3. Mengirimkan update ke alamat multicast yaitu 224.0.0.9.
4. Auto Summary dapat dimatikan.
5. Mendukung fungsi keamanan berupa authentication yang dapat mencegah
routing update dikirim atau diterima dari sumber yang tidak dipercaya.

Kelebihan RIP versi 2 :

- mendukung routing classfull dan routing classless
- -info subnet dimasukkan dalam perbaikan routing
- -mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
- -perbaikan routing multicast

5.7.1.6 OSPF

OSPF (Open Shortest Path First) adalah routing protocol link-state yang
dikembangkan oleh IETF sebagai pengganti RIP. Sifat OSPF adalah "open"; Artinya
vendor apapun dapat memanfaatkan routing protocol ini. Memanfaatkan algoritma
Shortest Path First (SPF); dimana jalur terbaik adalah jalur yang mempunyai
cumulative cost yang paling rendah. Tidak ada batasn penentuan cost ini.
OSPF mendasarkan matric dari cost yang berbeda-beda antar vendor. CISCO menerapkan
penghitungan cost berdasarkan rumus: 108/BW Ada 5 tipe paket yang digunakan
oleh OSPF:

1. Hello packet
2. Link State Request (LSR)
3. Link State Update (LSU)
4. Database Description
5. Link State Acknoeledgement (LSAck)

OSPF juga mirip dengan EIGRP dimana terdapat 3 table, yaitu adjacency table
(berisi neighbour-neighbour). OSPF juga melakukan auto summary, sehingga
mendukung sepenuhnya VLSM & CIDR.

OSPF kiga memanfaatkan process ID seperti EIGRP; Namun router - router yang
menjalankan OSPF tidak perlu menggunakan process. ID yang sama untuk saling
berkomunikasi karena OSPF menggunakan sistem area. Area pada OSPF menentukan
batasan update packet dapat dikirim ke router mana saja. Hal ini akan memelihara
bandwidth, karena perubahan pada salah satu router di satu area tidak "merembet"
ke luar are tersebut. Area yang wajib ada dalam topologi OSPF adalah area O, yaitu
backbone area. OSPF juga mendukung autentikasi dengahn2 tipe: yaitu clear text
dengan MD5.OSPF hanya mengenal: BMA(Broadcast Multi Access) Router2-Hub-
Router2, NBMA, P2MP, VL.

Kelebihan

- Tidak menghasilkan routing loop.
- Mendukung penggunaan beberapa metrik sekaligus.
- Dapat menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan.
- Membagi jaringan yang besar mejadi beberapa area.
- Waktu yang diperlukan untuk konvergen lebih cepat.
- Kekurangan
- Membutuhkan basis data yang besar.
- Lebih rumit.
162
5.7.1.7 EIGRP

EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol). Distance vector
protocol merawat satu set metric yang kompleks untuk jarak tempuh ke jaringan
lainnya. EIGRP menggabungkan juga konsep link state protocol. Broadcast-broadcast
di-update setiap 90 detik ke semua EIGRP router berdekatan. Setiap update hanya
memasukkan perubahan jaringan. EIGRP sangat cocok untuk jaringan besar.

Pada EIGRP ini terdapat dua tipe routing protokol yaitu dengan distance vektor dan
dengan Link state. IGRP dan EIGRP sama-sama sudah mempertimbangkan masalah
bandwitdh yang ada dan delay yang terjadi.

Karakteristik:

- Penerus dari IGRP, CISCO proprietary.
- Memanfaatkan triggered update, partial, dan bounded update.
- Partial artinya routing update yang dikirimkan tidak keseluruhan, namun
hanya route2 yang berubah.
- Bounded artinya hanya akan dikirimkan kepada router2 yang membutuhkan
-> alamat multicast (224.0.0.10).
- Memanfaatkan algoritma DUAL (Diffused Update Algorithm) untuk mencari
successor (best path), dan feasible successor (backup path).

Kelebihan

- Melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari loop.
- Memerlukan lebih sedikit memori dan proses.
- Memerlukan fitur loopavoidance.
- EIGRP mendukung multiprotocol.
- EIGRP meningkatkan fitur konvergensi dan efesien pengopersaian sinyal.
163- IGRP dan EIGRP saling kompatibel memberikan interoperability tanpa batas
dengan ruter IGRP.

Kekurangan

- Hanya untuk Router Cisco.
- EIGRP mempunyai maximum hop count terbatas sampai 224.

5.7.1.8 BGP

BGP (Border Gateway Protocol) adalah sebuah sistem antar autonomous
routing protocol. Sistem autonomous adalah sebuah jaringan atau kelompok
jaringan di bawah administrasi umum dan dengan kebijakan routing umum. BGP
digunakan untuk pertukaran informasi routing untuk Internet dan merupakan
protokol yang digunakan antar penyedia layanan Internet (ISP). Pelanggan jaringan,
seperti perguruan tinggi dan perusahaan, biasanya menggunakan sebuah Interior
Gateway Protocol (IGP) seperti RIP atau OSPF untuk pertukaran informasi routing
dalam jaringan mereka. Pelanggan menyambung ke ISP, dan ISP menggunakan BGP
untuk bertukar pelanggan dan rute ISP . Ketika BGP digunakan antar Autonom
System (AS), protokol ini disebut sebagai External BGP (EBGP). Jika penyedia layanan
menggunakan BGP untuk bertukar rute dalam suatu AS, maka protokol disebut
sebagai Interior BGP (IBGP)

Kelebihan

- Sangat sederhana dalam instalasi.
- Kekurangan :
- Sangat terbatas dalam mempergunakan topologi.
164
5.7.1.9 Default Route

Default route adalah sebuah rute yang dianggap cocok dengan semua IP address
tujuan. Dengan default route ketika IP address destination(tujuan) dari sebuah paket
tidak ditemukan dalam tabel routing, maka router akan menggunakan default route
untuk mem-forward paket tersebut. Default route paling cocok berfungsi ketika
hanya ada satu rute ke suatu network. Syarat membuat default routing adalah:


hanya memiliki satu jalur keluar / 1 gateway




share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 00.25 and have 2 komentar

2 komentar:

  1. Bang, saya ada tugas di 5.6.8 tapi setiap saya kerjain skor mentok di 16%, tolong bang solusi nya

    BalasHapus